Back to BuddhaSutra.com

Tidak Menodai Wanita Bugil, Mendapat Ketenaran

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 不欺裸婦,天賜功名
 
Lin Dengyun, hidup di masa dinasti Song dan tinggal di Jiang Nan. Karena ingin mengikuti ujian tingkat propinsi, dia naik perahu melewati kali Wu Song. Dalam perjalanan, karena langit sudah gelap, dia melabuhkan perahunya di pinggiran kali di bawah satu rumah bertingkat. Di tengah malam, mendadak rumah itu kebakaran. Ada seorang nyonya muda yang sedang memakai pakaian tipis tembus pandang, demi untuk menyelamatkan diri, dengan ketakutan melompat dari jendela kamar di lantai atas dan jatuh tepat di perahu Lin.

Melihat gadis yang mengenakan pakaian tipis di tengah malam yang dingin, Lin langsung membuka jubah bulu serigalanya dan diberikan pada si gadis. Supaya dia tidak malu dan tidak kedinginan. Juga karena khawatir jika si pemilik perahu melihat si gadis, akan timbul pikiran kotor dan berbuat tidak baik, maka Lin menyalakan lilin semalaman. Dia juga tidak tidur dan belajar semalaman sampai keesokan paginya. Ketika senja tiba, Lin mengantar gadis itu mendarat dan menyuruhnya pulang sendiri ke rumah, setelah itu baru dia melanjutkan perjalanannya. Tidak lama kemudian dia tiba di kota, lalu mengikuti ujian dan ternyata lulus.

Ketika dia bersama-sama dengan seorang pelajar lain yang juga lulus, pergi bertemu dengan pengawas ujian, si pengawas berkata, "Ketika saya sedang memeriksa kertas ujian kamu, karena karanganmu tidak memenuhi standar, saya menyingkirkan kertasmu ke samping. Tetapi malam itu, saya bermimpi bertemu dengan dewa Guan Sheng Di yang sedang memegang kertas ujianmu dan beliau berkata, "Wanita bugil, jubah serigala, menyalakan lilin semalaman dan aku". Keesokan harinya, melihat kertas ujianmu sudah berpindah di tumpukan kertas yang lulus, mendadak teringat akan mimpi semalam. Oleh karena itu kelulusanmu kali ini, pasti karena pahala dari perbuatan baikmu. Sehingga kamu dianugerahi ketenaran oleh Guan Sheng Di. Bolehkah kamu memberi tahu saya, sebetulnya jasa apa yang telah kamu perbuat?"

Setelah mendengar pertanyaan itu, Lin langsung berpikir ini pasti karena menolong si nyonya muda di perahu. Kemudian dia menceritakan secara mendetil kejadian yang baru dialaminya. Ketika dia sedang menceritakan tentang kejadian tersebut, teman seujian yang sedang bersamanya mendadak berlutut menghormatinya dan berkata, "Nyonya muda yang kamu ceritakan itu adalah istri saya. Malam itu saya ada keperluan dan meninggalkan rumah, ternyata rumah bertingkat itu mendadak kebakaran. Ketika saya tiba di rumah, melihat di bawah rumah ada seorang pelayan dan seorang wanita tua yang mati terbakar. Mendengar kabar, istri saya juga jatuh dari ketinggian ke lantai bawah, pasti dia juga tidak selamat dan meninggal, perasaan saya sangat sedih. Tetapi ketika senja tiba, malah saya melihat istri saya pulang dengan mengenakan jubah bulu serigala. Saya menjadi curiga istri saya punya hubungan gelap dengan lelaki lain, maka saya memarahinya, menceraikan dan mengusirnya pulang ke rumah orang tuanya. Sekarang setelah mendengar cerita kamu, saya sadar telah menyalah pahami istri saya. Bukan saja kamu menyelamatkan nyawa istri saya, juga menjaga kesuciannya. Budi ini saya tidak akan lupa selamanya!" Setelah mendengar percakapan itu, si pengawas ujian memuji tindakan baik Lin yang tidak terpengaruh melihat kecantikan dan menjaga kesucian seorang wanita. Juga mengagumi kebijakan langit yang mengatur sedemikian rupa, sehingga membuat si pelajar yang baru lulus ujian itu langsung pulang menjemput istrinya yang telah disalah pahami, dan membuat hubungan mereka kembali seperti semula.

Di tahun berikutnya, mereka berdua terpilih masuk ke pemerintahan. Lin Dengyun yang masih belum menikah memiliki sifat yang sangat bermoral dan ini dijunjung tinggi oleh Perdana Menteri pada saat itu dan kemudian dijadikan menantu. Sesudah itu perjalanan karirnya pun sangat mulus, menjadi pejabat sampai kedudukan yang tinggi. Dia memiliki dua anak yang masih muda sudah lulus ujian dan mendapat jabatan di pemerintahan.

Komentar: Memiliki moral yang lebih tinggi daripada kepintaran, akan membuat kepintaran itu berguna. Tetapi meskipun memiliki kepintaran tinggi tapi tak bermoral, kepintaran itu akan menjadi sia-sia. Bersadarlah!

Back to BuddhaSutra.com