Back to BuddhaSutra.com

Pembalasan Untuk Yang Suka Membunuh

Penduduk desa Run-zhou di Jiangsu kebanyakan adalah nelayan yang hidup dari menangkap ikan, katak dan keong. Mereka suka sekali membunuh. Bila mereka melahirkan anak perempuan, maka bayi itu akan ditenggelamkan atau dibuang di hutan sampai mati. Setiap hari mereka menangkap keong dan katak. Yang lebih tua mengajarkan anak-anaknya bagaimana menggunakan pisau untuk memotong katak. Dengan begitu, mereka terbiasa untuk membunuh dan merasa belajar membunuh adalah hebat.

Di desa itu ada seorang nenek tua yang bernama Kong-po yang tidak pernah membunuh. Meskipun dia telah berumur 70 tahu, dia masih tetap hidup dari menenun kain. Dia selalu menggunakan uang hasil kerjanya untuk melepaskan kehidupan. Dia juga suka menganjurkan orang lain untuk melepaskan kehidupan. Dia selalu berkata: "Menyapu keong ke sungai dan menolong semut-semut adalah cara untuk mendapat pahala terselubung. Jangan pernah berpikir bahwa perbuatan baik yg kecil tidak ada artinya. Jadi orang harus baik hati dan welas asih juga perhatian terhadap semua mahluk hidup. Lihatlah penduduk desa ini, mereka membunuh setiap hari. Oh! Saya tak dapat membayangkan pembalasan apa yang akan diterima nanti."

Di suatu pagi hari ke-9 bulan ke-9 di tahun Yi-mao, Qian-long, tepian sungai di Runzhou meluap dan air sungai membanjiri desa. Seluruh Run-zhou tenggelam oleh banjir dan banyak rumah yang hanyut. Tak terhitung jumlah penduduk yang meninggal di bencana ini. Beberapa malam sebelum bencana, beberapa nelayan melaporkan bahwa mereka melihat ada seorang yang berpakaian hitam sedang mengambil buku catatan hitam dari dalam sungai. Lalu nelayan itu menanyakan apa tujuannya dan orang yang berpakaian hitam menjawab: "Ini adalah pembalasan dari membunuh. Kalian semua harus segera berhenti membunuh dan berlatih membebaskan." Setelah mengatakan itu, dia melempar buku hitam kembali ke sungai dan dia menghilang.

Satu hari sebelum terjadi bencana, Kong-po membawa cucunya yang paling kecil untuk memuja Buddha di wihara. Mereka menetap di wisma yang terletak di bukit sehingga mereka terbebas dari bencana. Karena Kong-po baik hati dan welas asih, dia dan keluarganya diberkati.

Back to BuddhaSutra.com