Back to BuddhaSutra.com

Menjaga Moralitas, Keturunan Mendapat Rejeki

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 克己復禮,德蔭子孫
 
Pada masa dinasti Ming, di Zhejiang Hangzhou, ada seorang anak dokter bermarga Chen yang sedang menghadapi ujian. Selesai ujian, ketika pengawas sedang memeriksa hasil karangannya, mendadak terjadi suatu kejadian yang aneh. Ternyata setelah membaca karangan itu, si pengawas merasa biasa-biasa saja dan memutuskan untuk tidak meluluskannya. Mendadak di kuping terdengar suara, "Tidak boleh". Lalu mengambil lagi karangan itu dan diteliti kembali, tetap saja si pengawas tidak ingin meluluskan. Kembali terdengar suara, "Tidak boleh! Tidak boleh!" Meskipun kejadian ini berulang, tetapi tetap merasa karangan tersebut tidak memenuhi standar, pada akhirnya tetap tidak diluluskan. Suara itu terdengar lagi, "Dua kata tidak boleh memang paling susah!".

Mendengar suara yang mengatakan "Tidak boleh" berulang kali, si pengawas akhirnya menyadari di balik ini pasti ada perbuatan kebajikan yang luar biasa, untuk menghormati titah itu, dia pun meluluskan hasil karangan Chen. Setelah hasil ujian diumumkan, si pengawas memanggil Chen untuk menanyakan hal ini, tetapi Chen sama sekali tidak tahu apa yang dimaksud.

Sepulangnya ke rumah, Chen menanyakan hal ini pada ayahnya. Mendengar pertanyaan anaknya, Dokter Chen menjawab, "Ini karena pada masa mudaku, pernah dengan tanpa biaya mengobati seorang miskin yang sedang sakit. Ada sekali karena hujan deras, meneduh di rumahnya. Karena diperintah oleh ibunya, istri si miskin merelakan tubuhnya untuk menemaniku sebagai pembalasan budi. Saat itu, aku adalah seorang pemuda yang kuat dan penuh vitalitas, melihat seorang wanita cantik, hatiku sedikit tergerak untuk melakukan perbuatan ceroboh. Tetapi mengingat itu adalah perbuatan tak bermoral, maka aku berkata pada diri sendiri, "Tidak boleh!" dan segera menekan perasaan ceroboh itu. Lalu si istri dengan kuat menarikku naik ke ranjang. Aku langsung mengatakan, "Tidak boleh! Tidak boleh!", kemudian melepaskan diri dan duduk di pinggir. Tetapi si istri dengan kecantikannya terus menerus merayuku, ditambah lagi nafsu birahi di hati, akhirnya hampir saja aku tak dapat bertahan. Pada saat hampir lepas kontrol itu, hatiku mendadak berteriak, "Dua kata tidak boleh memang paling susah!" Malam itu pikiranku  dipenuhi oleh peperangan antara moralitas dan nafsu, sangat sulit sekali untuk melewati saat-saat itu. Ketika matahari mulai bersinar, aku langsung bergesa-gesa pulang. Kejadian ini tidak pernah ku ceritakan pada siapapun juga. Tidak sangka, Langit membalas jasaku ini dengan memberikanmu kelulusan dan jabatan. Semoga mulai saat ini kamu dapat lebih giat lagi meneruskan perbuatan kebajikan, untuk membalas budi kepada Langit yang telah demikian merawat kita!"

Komentar: Ketika wanita cantik di hadapan, memang sulit untuk tidak terpengaruh. Apalagi jaman sekarang ini, godaan ada di mana-mana. Rejeki atau malapetaka, semua tergantung dari kelakuan kita sendiri saat menghadapi godaan. Maka, jauhilah hal-hal tak bermoral! Demi diri sendiri dan demi keturunan kita, jangan pernah lalai!

Back to BuddhaSutra.com