Back to BuddhaSutra.com

Mendidik Dunia, Merubah Nasib Sendiri

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 為文勸世,得獲功名
 
Li Ding, dari keluarga Jiaxing, hidup di masa dinasti Ming. Dia memiliki sifat yang selalu menentang kejahatan dan membela kebaikan. Setiap kali dia menjumpai orang-orang yang sedang mendiskusikan hubungan intim antara pria dan wanita, dia selalu menasihati mereka dengan tegas untuk menjauhi topik dan perbuatan seperti itu. Dia ingin masyarakat mengerti bahwa membicarakan keburukan orang lain adalah suatu kesalahan dan bisa mencemarkan nama baik seseorang. Demi untuk mendidik generasi selanjutnya tentang hal ini, dia menulis sebuah pantun yang melafalkan cara-cara untuk tidak berbuat kesalahan. Dengan demikian sangat banyak orang-orang yang setelah mendengar ajarannya, merubah sifat buruk dan berbuat kebajikan.

Li sering mengikuti ujian tetapi tidak pernah lulus, ini membuat dia menjadi tidak peduli lagi akan jabatan dan nama baik. Tetapi pada masa tuanya, para muridnya memaksanya untuk bersama-sama mengikuti ujian. Akhirnya dengan hati yang berat dan terpaksa, juga tanpa harapan akan lulus, dia pergi mengikuti ujian. Kemudian setelah ujian, di malam hari sebelum hasil ujian diumumkan, mendadak dia bermimpi bertemu dengan ayahnya yang mengatakan: "Di kehidupan lalu kamu sudah mendapat jabatan ketika masih muda, tetapi karena sombong dan tidak menghormati orang lain, maka di kehidupan ini Langit menghukum kamu seumur hidup selalu tidak mendapat apa yang diinginkan. Sebenarnya kali ini ada seseorang yang ditakdirkan untuk lulus ujian dan di kemudian hari mendapat jabatan. Tetapi karena genit dan penuh nafsu birahi, bulan lalu dia telah menodai seorang gadis yang belum menikah. Maka nasib baiknya dihapus. Karena kamu pernah menulis pantun yang mengajarkan moralitas dan banyak orang-orang yang terpengaruh sehingga tidak berani lagi membicarakan hal-hal yang tabu, maka Wen Chang Di mengembalikan nasib baikmu. Semoga di kemudian hari kamu dapat lebih giat lagi berbuat kebajikan dengan mengajarkan moralitas pada generasi muda. Dengan demikian kamu telah membalas budi kepada Langit."

Setelah tersadar dari mimpinya, dia sangat bergembira. Sewaktu hasil ujian diumumkan, ternyata dia lulus. Di tahun berikutnya dengan mulus dia mendapat jabatan. Dia yang sebenarnya ditakdirkan tidak memiliki nasib baik, karena sering kali menasihati masyarakat untuk berbuat kebajikan, maka nasibnya pun berubah.

Untuk membalas kebaikan langit, harus lebih berhati-hati dalam berperilaku dan menjaga moralitas. Dengan demikian memberikan contoh yang baik pada generasi berikutnya. Di kemudian hari, karena Li menjadi seorang pejabat yang bersih, karirnya berjalan lancar dan akhirnya mendapatkan jabatan yang tinggi.

Komentar: Perbuatan asusila mencemarkan nama baik dan merusak moralitas. Orang-orang yang dengan sengaja berbuat asusila pasti mendapat karma buruk. Sedangkan orang-orang yang menjaga moralitas akan mendapat balasan yang sangat baik. Kita harus belajar dari perilaku para leluhur dan giat berbuat kebajikan.

Back to BuddhaSutra.com