Back to BuddhaSutra.com

Memanggil Pelacur, Merusak Nama Baik

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 招妓犯淫,功名幾被奪

Zhou Boshun, orang Shandong yang hidup di masa dinasti Qing. Di tahun Tongzhi Jiazi, ia pergi ke ibukota provinsi untuk mengikuti ujian nasional. Setelah mengetahui dia lulus ujian, demi kesenangan, dia mengadakan pesta besar. Da memanggil banyak pelacur, dan mengundang sanak famili juga teman dekat untuk merayakannya.

Setelah pesta, para pelacur menginap dan mereka memuaskan nafsu birahi mereka. Ketika dia sedang bersenang-senang dengan para pelacur, ayahnya di rumah bermimpi ada dewa yang memberi tahu: "Anakmu, setelah lulus ujian kali ini, sebenarnya di kemudian hari akan kembali lulus ujian yang lebih tinggi. Tetapi karena di kota, setelah lulus ujian, dia memanggil pelacur dan berlaku asusila, dia telah melanggar sila tidak berzinah. Meskipun lawan dalam memuaskan birahi itu adalah seorang pelacur yang memang profesinya di situ, tetapi karena tidak peduli akan kebersihan diri, moral dan martabat, dia telah melakukan kesalahan besar. Maka dari itu, nama baiknya telah dicoret oleh Wen Chang Di (dewa kepintaran). Untungnya, para leluhurmu di kehidupannya dulu telah berbuat banyak perbuatan baik dan pahalanya sangat besar. Anakmu sekarang masih mendapatkan faedah dari pahala itu. Jika mulai dari sekarang dia dapat menyesali kesalahannya dan menuju kebaikan, maka masih ada harapan bagi nama baiknya yang telah di coret itu untuk dipulihkan kembali. Semoga kamu dapat menasihati anakmu supaya berhati-hati."

Tak lama kemudian, Zhou Boshun dengan penuh kesenangan kembali dari kota. Setibanya di rumah, ayahnya menginterogasi tentang perbuatannya di kota. Zhou mengira ayahnya bisa dikelabuhi, maka dia menutupi perbuatannya dengan pelacur tersebut. Mengetahui anaknya tidak menyadari kesalahan, ayahnya menjadi marah dan kecewa. Kemudian dia menceritakan mimpinya kepada anaknya secara mendetil. Setelah mendengar itu, Zhou menjadi kaget, keringat mengucur di pundaknya dan mukanya pucat, akhirnya mengakui kesalahannya. Kemudian dia berdoa pada para dewa meminta pertobatan dan bersumpah tidak akan mengulangi kesalahan itu lagi. Karena pahala para leluhurnya, ayahnya diberikan peringatan dalam mimpi. Juga untungnya Zhou di waktu yang tepat dapat menyesali kesalahannya dan giat menuju kebaikan. Langit tidak akan menghukum orang yang menyesali kesalahan. Di kemudian hari, ternyata dia kembali lulus ujian yang lebih tinggi.

Komentar: leluhur meninggalkan pahala untuk keturunannya. Jika setiap orang dalam setiap perbuatannya, dapat mengingat jasa baik para leluhur, dan melindungi keturunan sendiri dari malapetaka, pasti akan dapat berbuat banyak kebajikan dan menghancurkan kejahatan!

Back to BuddhaSutra.com