Back to BuddhaSutra.com

Karma Dari Membunuh Babi

Di Pai-tou wilayah He-fei Anhui, ada seorang pejagal yang bernama Xuan-si. Dia telah membunuh babi lebih dari 20 tahun. Dia cukup kaya raya, memiliki 3 rumah dan 100 hektar sawah.

Satu pagi, kira-kira pukul 5, dia bangun tidur dan merebus air sebelum mulai memotong babi. Istrinya juga bangun tidur pada waktu yang sama untuk pergi ke toilet. Ketika si istri sedang melewati kandang babi, dia melihat dua perempuan sedang berbaring di lantai. Dia mendekati untuk melihat lebih jelas, setelah yakin apa yang dilihat, dia menjadi ketakutan. Lalu dia memberi tahu suaminya dan berkata: " Ini adalah pertanda buruk. Mulai saat ini, lebih baik kau merubah pekerjaanmu. Tolong jangan membunuh babi lagi." Tetapi, Xuan-si tidak mendengarkan nasihat istrinya, sehingga istrinya tak dapat berbuat apa-apa selain membuang pisau jagal ke toilet. Karena tidak menemukan pisau jagalnya, Xuan-si tak dapat memotong babi pada hari itu. Xuan-si sama sekali tidak merasa bersalah atas perbuatannya selama ini membunuh babi-babi.

Ketika istri Xuan-si merasa suaminya tidak perduli akan nasihatnya, dia meminta anggota keluarga yang lain untuk ikut membujuk Xuan-si membagi harta bendanya untuk istri dan anaknya sehingga mereka bisa pindah keluar dari rumah Xuan-si. Setelah berpisah, Xuan-si tetap melanjutkan pekerjaannya sebagai penjagal babi. Ketika dia telah memotong semua babi-babi di kandang, anaknya yang paling kecil mendadak jatuh sakit dan meninggal. Istrinya menjadi sangat sedih dan bertengkar dengan suaminya seharian penuh. Setelah kematian anak bungsunya, Xuan-si merasa menyesal dan memutuskan untuk berhenti membunuh babi. Tetapi dia malah menjadi pejudi, mengharapkan untuk dapat melupakan kejadian yang menyedihkan itu. Beberapa tahun kemudian, seluruh tanah dan harta bendanya habis di meja judi.

Xuan-si menjadi miskin kembali dan terpaksa harus menjalankan pekerjaan lamanya sebagai pejagal. Setelah 20 hari, mendadak dia mendapat penyakit aneh. Darah kental dan bau keluar dari mulut dan hidungnya. Dia dipenuhi kotoran dan menderita rasa sakit yang sangat hebat sehingga dia berteriak seperti seekor babi dari pagi sampai malam. Dia menderita selama lebih dari setahun sampai akhirnya meninggal.

Back to BuddhaSutra.com