Back to BuddhaSutra.com

Berzinah Dengan Seorang Janda, Menghancurkan Masa Depan Sendiri

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 欺淫孀婦,絕嗣又潦倒

Gao Xiaobiao dan Gao Xiaoji adalah orang Nan Chang Jiang Xi hidup pada masa dinasti Song. Mereka adalah kakak beradik kembar, paras mereka, tingkah laku, senyuman, kepintaran dan kemampuan belajarnya sama total. Sewaktu mereka berumur 20 tahun, bersama-sama berhasil masuk sekolah nasional. Bahkan pada tahun dan waktu yang sama, mereka menikah. Setelah pernikahan mereka, karena ayah ibu khawatir istri mereka tidak dapat membedakan suami masing-masing, maka memerintahkan mereka untuk membedakan warna baju agar mudah dikenali.

Setahun kemudian, kakak adik kembar ini sama-sama memiliki anak pertama. Juga bersama-sama mendapat beasiswa dan menjadi murid peneliti di sekolah. Dapat dikatakan bahwa mereka memiliki nasib yang sama, tidak ada yang lebih baik atau buruk. Tetapi ketika mereka berumur 31 tahun, dalam perjalanan untuk mengikuti ujian tingkat provinsi, terjadilah perubahan yang sangat drastis. Ternyata, dalam upaya untuk mengikuti ujian, mereka pernah menginap di sebuah penginapan. Di kamar sebelah, tinggal seorang wanita yang sangat cantik dan menarik. Wanita ini ternyata adalah seorang janda kaya yang ditinggal mati suaminya ketika masih muda.

Di satu malam, wanita ini diam-diam pergi menemui si kakak, Xiaobiao. Dengan kecantikannya, dia menggunakan bermacam-macam cara untuk merayu Xiaobiao. Tetapi Xiaobiao tetap menjaga sopan santun dan martabat sehingga tidak terpengaruh. Bahkan dengan tidak segan-segan memarahi si janda muda, dan menolak keinginan genitnya.

Keesokanan harinya, Xiaobiao memperingati adiknya Xiaoji: "Di penginapan ini ada seorang janda muda yang cantik dan kaya raya, kemarin malam dia mencoba untuk merayuku tetapi aku marahi dan tolak mentah-mentah. Jika dia mencoba untuk merayumu, semoga kamu dapat sangat berhati-hati tidak terpengaruhi oleh kecantikannya sehingga berbuat sesuatu yang tidak bermoral."

Tetapi hati Xiaoji tidak dapat setenang kakaknya, dari luar sepertinya sangat mendengarkan nasihat kakak, tetapi akhirnya menerima rayuan si janda dan mereka berdua masuk ke perangkap nafsu birahi. Setelah kejadian itu, si janda muda tidak mengetahui bahwa yang berhubungan dengannya adalah sang adik Xiaoji dan masih mengira itu adalah Xiaobiao.

Karena hati kakak beradik kembar ini begitu berbeda, setelah ujian, si kakak lulus dan si adik tidak. Selama ini Xiaoji yang nasibnya selalu sama dengan kakaknya, masih tidak sadar mengapa setelah ujian nasib mereka menjadi begitu berbeda dan tidak menyadari kesalahannya apalagi menyesal. Bahkan dengan menggunakan nama kakanya, mengelabuhi si janda muda dan berkata: "Saya telah lulus ujian, tunggu sampai setelah ujian berikutnya di tahun depan, saya pasti akan menjemputmu dan memberi tahu orang tua saya bahwa kita akan menikah." Mendengar itu, si janda muda percaya penuh dan memberikan semua harta bendanya ke Xiaoji untuk dijadikan biaya menjemputnya di kemudian hari.

Di tahun berikutnya, si kakak Xiaobiao lulus lagi. Si janda mengira itu adalah si adik Xiaoji, dia sangat bergembira karena selama ini selalu menunggu waktunya tiba untuk dijemput dan dinikahi. Tetapi sesungguhnya, sejak terakhir kali berpisah, Xiaoji telah lenyap tanpa kabar. Karena rasa rindu yang berlebihan, akhirnya si janda jatuh sakit. Ketika sakitnya menjadi parah, dia menyuruh orang untuk mengirimkan surat ke Xiaoji, untuk memberi tahu betapa kejamnya Xiaoji dan masih berharap agar Xiaoji dapat memenuhi janji. Tetapi pada akhirnya, penyakitnya tambah parah dan dia pun meninggal dengan penuh rasa kesal.

Surat itu kemudian diterima oleh Xiaobiao, setelah membaca isinya, barulah Xiaobiao mengerti apa penyebab adiknya tidak lulus ujian, karena telah melanggar aturan dan melakukan perbuatan yang tidak bermoral. Kemudian dia menegur adiknya akan kesalahan yang telah diperbuat, dan menharap adiknya dapat memikirkan cara untuk membayar kesalahan itu. Setelah mendengar teguran, Xiaoji sebetulnya menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur dan selamanya tidak dapat dibenarkan lagi.

Setahun setelah si janda mati karena kesal, anak tunggal Xiaoji mati tenggelam ketika pergi main air untuk menangkap ikan. Tetapi anak Xiaobiao selamat tanpa bahaya. Karena kematian anaknya yang tragis, Xiaoji bersedih dan menangis sampai matanya buta. Seumur hidupnya menjadi sengsara dan tidak mendapat keturunan lagi.

Sebaliknya, Xiaobiao lulus ujian, menjadi kaya raya dan berumur panjang, anak cucunya banyak jumlahnya dan semuanya berbakti dan sukses. Waktu itu ada orang yang pernah meramalkan nasib si kakak beradik kembar: Lahir pada waktu yang sama, masuk sekolah bersama, menikah dan punya anak pada waktu yang sama, menjadi murid perguruan tinggi bersama-sama. Tetapi karena nafsu birahi dan berbuat asusila terhadap seorang janda muda, sejak itu yang satu berhasil, yang satu gagal, perbedaannya seperti langit dan bumi. Pembalasan terhadap orang yang porno, datang dengan cepat dan tiba-tiba.

Komentar: Nasib baik dan buruk adalah hasil dari perbuatan sendiri dan akan diterima masing-masing. Karma sesungguhnya hanya mengikuti perbuatan baik dan buruk seseorang. Hati yang baik atau buruklah yang menentukan nasib.

Back to BuddhaSutra.com