Back to BuddhaSutra.com

Berpikiran Seksual, Langit Pun Tidak Dapat Menerima

Translasi dari 重寫戒淫證輯 - 淫心戲謔,天亦難容

Zhao Yongzhen, hidup di masa dinasti Ming. Sewaktu kecil pernah diramal oleh seorang ahli. Si peramal melihat paras Zhao dan berkata, "Kamu memiliki dasar kebajikan yang dalam, jika pada umur 23 nanti kamu mengikuti ujian, pasti akan lulus. Jika dapat lebih banyak lagi berbuat kebajikan, masa depanmu pasti cerah tanpa batas."

Pada umur 23, Zhao pergi mengikuti ujian, ternyata dia tidak lulus. Pada satu malam, dia bermimpi bertemu dengan Wen Chang Di (dewa kepintaran). Di dalam mimpinya dia dimarahi oleh Wen Chang Di, "Ujian mu kali ini, sebenarnya kamu akan mendapatkan peringkat teratas. Tetapi karena kamu memiliki hati yang penuh birahi dan mengintip pelayanmu, bahkan merayu gadis tetangga untuk ikut menikmati pertunjukkan, oleh karena itu nama baikmu telah dicoret."

Mendengar omelan itu, Zhao membela dirinya sendiri dan berkata, "Meskipun saya memiliki pikiran kotor, tetapi tidak menodai mereka. Apakah itu termasuk menyalahi sila tidak berzinah, dan pantaskah saya mendapat hukuman seperti ini?" Wen Chang Di mendengar kata-kata tampikan Zhao, dengan marah kembali berkata, "Apakah kamu kira benar-benar telah melakukan pelanggaran sila baru bersalah? Setiap pikiran kotor juga pikiran jahat lainnya, meskipun belum dilakukan dengan tindakan, asalkan ada pikiran seksual, maka tetap akan mendapat hukuman nama baik dicoret. Apalagi kalian tidak mengindahkan moralitas antara pria dan wanita, malah saling merayu, bergenit-genitan, saling merangkul dan berpegangan tangan. Tanyakan pada dirimu sendiri, apa pikiran mu pada saat itu? Karena kamu memiliki pikiran seksual juga tidak mengindahkan batasan norma pada saat bercanda ria dengan mereka. Dengan begitu kamu telah membuat mereka terlarut dalam perasaan dan terperangkap dalam kesengsaraan cinta. Dengan begitu, langit memutuskan untuk mencoret nama baikmu. Sampai saat ini kamu masih tidak merasa bersalah dan menyesal, bahkan membantah kata-kata saya. Saya takutkan di kemudian hari, malapetaka yang lebih hebat akan menjatuhi mu.

Setelah dinasihati dan dimarahi, Zhao baru menyesal dan langsung menyembah di lantai sembari menangis tersedu-sedu. Dengan penuh ketulusan dia menyesal dan bersumpah, "Saya kini tahu salah, saya berjanji mulai dari hari ini saya tidak akan melihat hal-hal yang buruk, pikiran saya tidak akan sembarangan berhayal. Jika saya mempunyai pikiran seksual lagi, saya rela dihukum langit, menerima hukuman kepala terpisah dari tubuh. Wen Chang Di mengetahui Zhao telah dengan tulus menyesal dan membuat sumpah berat, kemudian berkata, "Kamu sangat tulus menyesali perbuatanmu, kamu harus menjaga agar tidak lagi berpikiran seksual, menasihati orang lain, menjaga tutur kata, perbuatan dan pikiranmu, dan tidak melakukan perbuatan asusila. Jika kamu dapat melaksanakan itu semua, maka pasti akan dapat memulihkan nama baikmu, bahkan rezekimu di masa depan akan berlimpah ruah." Setelah mengatakan itu, Wen Chang Di menggunakan pena dan menunjuk ke hati Zhao. Dengan tunjukan itu, Zhao menjadi sadar dan terbangun.

Sewaktu Zhao mengingat-ingat kejadian dalam mimpinya itu, dia menyadari memang dasar kebajikannya sangat dalam, sehingga beruntung bisa mendapatkan nasihat dan arahan dari Wen Chang Di. Jika tidak seumur hidup pun tidak akan menyadari di mana kesalahan sendiri. Sedari itu, Zhao selalu berhati-hati, selalu waspada akan setiap pikiran dan perasaan juga giat berbuat kebajikan. Ternyata karena dia dapat bersusah payah menyesali perbuatan lama dan merubahnya, pada umur 26, dia lulus ujian. Karena terdorong untuk berbuat kebajikan, dia membuat satu puisi yang isinya menasihati rakyat banyak akan buruknya perbuatan asusila. Ini terus berlangsung dan setelah 4 tahun kemudian, pahala baiknya bertambah setiap hari, akhirnya dia mendapat jabatan di pemerintahan. Kemudian, dengan mulus dia mendapat jabatan yang lebih tinggi lagi dan memerintah suatu wilayah. Bahkan anak cucunya yang dapat melaksanakan ajarannya, mendapat keberuntungan.

Komentar: Tiga inci di atas kepala ada para dewata, setiap pikiran baik maupun buruk, tidak akan dapat melewati mata tajam mereka. Maka hendaklah kita berwaspada dengan setiap pikiran kita.

Back to BuddhaSutra.com